Opini

Berani Memilih Bacaan Bermutu dan Berati

“Para penerbit dengan cepat mengembangkan jenis bacaan baru yang secara khusus ditunjuk bagi pasar. Buku yang tidak dirancang untuk mencerdaskan atau mendidik, tetapi untuk menghibur.” (Andrew Pettegree dan Arthur Der Weduwen, dalam The Library: A Fragile History, hlm. 13)


Setelah berziarah ke makam Sunan Ampel di Surabaya, sedari awal saya telah berniat untuk berkunjung ke beberapa toko buku disekitaran pusara. Ziarah kali ini, bukan ‘Deja Vu’ sebab tahun 2007 lalu pertama kali saya mengijakkan kaki di makam Sunan Ampel.

Entah karena begitu bersemangat, sehinngga saya dan rombongan study tour santri KMI Al-Ikhlas tiba di makam Ampel sekitar pukul 08:00 pagi. Tepat saat penjajak dan pemilik toko sedang hectic (sibuk) mempersiapakan barang dagangnnya.

Saya masuk dari gerbang pusara. Setelah bus terparkir di terminal tepat diseberang jalan gerbang masuk makam Sunan Ampel. Geliat pagi masih sangat terasa. Para penjajak barang dagangan berjibaku dengan rutinitas pagi mereka yang serba cepat.

Souvenir antik, pakaian bermotif cantik, gantungan tasbih, dari butiran kecil hingga sebesar kalung Biksu bergelantungan menghiasi jalan-jalan setapak menuju makam. Suasana yang sangat religious. Teringat diwaktu dulu, ketika kunjungan saya pertama kali.

Tawar menawar harga terjadi, sesekali berakhir indah. Namun, di sudut berbeda, penjual dan penawar bersikukuh tak saling sepakat. Ada juga yang menawar langsung bungkus. Dan berbagai macam jenis penawaran yang saya amati, saling merelakan saat penawar meminta discount.

Tidak ada yang saling paksa, hanya saling menjaga integritas penjual dan pembeli. Tanpa terasa jarum jam menunjukkan pukul 08:30. Saya kemudian bergegas menuju toko buku di gang-gang menyusur labirin-labirin kecil yang padat. Saya pun tiba tepat saat pemilik toko masih bersiap-siap akan membuka gerbang-gerbang berisi ilmu.

Walau gerai toko masih banyak yang belum buka semuanya, namun rasa rindu pertumpah. Harum kertas dan buku menyeruak menyulut hidung. Serasa Karma Karsa. dalam Bahasa Dewi Lestari. Saya membaca tulisan toko buku yang berjejer membelah tembok-tembok kokoh. Sedia buku Turost Bahasa Arab. Kitab rujukan dari para ulama. Dan berbagai tulisan promosi lainnya.

Saya memasuki beberapa toko buku dengan antusias. Melihat seragam saya dengan sarung, baju kokoh putih, kopiah abu-abu menyiratkan saya pada lebel warga NU yang sederhana. Dialog singkat tak terlakkan. Tawar-menawar harga kembali terjadi.

“Dari mana pak Yai? Silakan masuk dan lihat-lihat buku di dalam” Sambut penjaga toko buku yang saya taksir berdarah Arab. “Saya asli Sumbawa, tepatnya di Taliwang. Saya sedang mencari buku terjemahan karya Imam al-Ghazali, ustadz” Jawab saya sopan.  

“Sumbawa, Lombok ya pak Yai. Masyaallah dari daerah jauh. Semoga mendapatkan buku yang di cari” Penjaga toko itu membalas rendah. Saya kemudian menyisir sudut-sudut dan membaca judul buku yang berjejer bertumpuk-tumpuk. Setelah membaca dan melihat sekeliling toko, saya pamit keluar berjalan ke toko sebelahnya.

Sambutan dan dialog serupa terjadi. Hingga kurang lebih 1 jam setengah saya mengelilingi toko buku. Namun, buku yang saya cari belum saya temukan. Dengan niat, suatu saat akan kembali lagi ke sini. Saya maklum, buku yang saya cari belum ketemu. Karena, pagi itu belum semua gerai toko terbuka.

“Mas, biasanya gerai toko buku di sini bukanya jam berapa?” Saya bertanya kepo’ kepada penjual parfum. “Biasanya jam 9 lebih Mas” Jawabnya singkat. Sejenak saya terpaku. Saya baru menyadari kalau kunjungan ke toko gerai itu terlalu cepat.

Padahal sudah 1 jam lebih saya mondar-mandir, menunggu gerai toko lain terbuka. Dengan berat hati saya harus segera balik ke Bis, karena jam 10 schedule kunjungan selanjutnya ke Galaxi Mall Surabaya. Dengan sedikit tergesa-gesa saya meninggalkan Toko Buku area makam Sunan Ampel, bergegas menuju terminal tempat parkiran Bus.

Berburu Buku di Gramedia Mall  

Setelah sampai di Galaxi Mall, di entrance door, saya lansung bertanya kepada karyawan Mall, “Gramedia dilantai berapa mbak?” Tanya saya antusias. “Langsung ke lantai 3 pak ya” jawab karyawan perempuan itu, sambil membri isyarat dengan ibu jarinya. “Terimakasih mbak” saya pun bersegera menuju lantai tiga.

Tanpa membuang-buang waktu, saya bergegas menuju deretan rak Best Seller dan New Arrival. Buku yang sedang dalam penjualan terbaik, dan judul buku yang baru terbit. Setelah membaca, memilih dan memilah beberapa judul yang terpampang di cover buku.

Pandangan saya terfokus pada sebuah buku dengan judul “The Library: Explorasi Menarik tantang Sejarah Perpustakaan dari Dunia Kuno hingga Era Digital” karya Andrew Pettegree dan Arthur Der Weduwen. Buku ini diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dari judul aslinya The Library: A Fragile History.

Buku ini cukup membuat saya penasaran, sekaligus tertantang untuk membedah isinya yang saya prediksi relate dengan naskah buku yang akan saya terbitkan. Rasa-rasanya, feeling saya berkelakar ‘buku inilah yang selama ini saya buru’.

Untuk memenuhi kelengkapan penyusunan naskah buku yang akan saya terbitkan, bagi saya buku dengan latar belakang Library berpotensi menunjang literature naskah akademis semi-penelitian. Selain sebagai sumber primer, buku dengan background kepustakaan harapannya akan memberikan informasi penting pada segmen-segmen yang bisa jadi celah retak kepenulisan.

Setelah transaksi dealdeal-an saya memutuskan untuk memiliki buku tersebut. Cukup lama saya berkeliling mengitari, membaca judul, membaca synopsis, melacak nama penulis, memantau harga. Setelah menimbang atas asas manfaat buku library itu saya bayar ke kasir. Hargayang cukup berimbang dengan ketebalan 587 halaman.

Selepas membayar cash, saya turun dari lantai 3 bergegas mencari sudut tenang untuk membuka segel dan mulai membaca. Tidak butuh lama untuk jatuh cinta dengan buku ini. Pada halaman pembuka, saya menemukan sebuah ‘kutipan penting’ dari buku ini. Berikut bunyinya;

“Revolusi teknologi dan industri cetak abad ke-19 telah memperluas cakupan bahan bacaan yang tersedia bagi para pembaca pemula. Para penerbit dengan cepat mengembangkan jenis bacaan baru yang secara khusus ditunjuk bagi pasar melek huruf yang baru ini. Buku yang tidak dirancang untuk mencerdaskan atau mendidik, tetapi untuk menghibur.”

Semacam ‘letupan’ kesadaran menghentak pikiran saya. Setelah membaca sepenggal kalimat di atas. Kalimat ini seolah menjawab realitas yang terjadi saat ini di industri penulisan dan percetakan. Saat ini para penulis pendatang baru, lebih banyak menulis untuk menghibur bukan sebaliknya untuk sebuah tujuan mendidik dan mencerdaskan!

Karenanya, saat ini boleh jadi karya menjamur namun kita harus memutuskan untuk berani memilih bahan bacaan yang bermutu dan berarti. Berani memilih bacaan mecerdaskan dan mendidik. Berani untuk memilih bacaan yang sedikit mengernyit dahi untuk berpikir, bukan sekedar untuk menghibur dan mengembirakan pembaca.

Apabila diresapi dengan seksama, target penerbit pasca abad ke-19 memang bergeser dari lakon dan peran sebelumnya. Buku yang ditulis pada abad-abad sebelumnya sarat dengan pengetahuan yang walaupun agak ‘runyam’ dipahami pembaca. Sebab, mengacu kepada rumpun ilmu yang harus dijelaskan secara runut dan urut.

Penulis kala itu, dengan segenap pengetahuan yang dimiliki menjelaskan sebuah teori dan penemuan berdasarkan pengalaman dan pengamatan, baik empiris maupun non-empiris. Karya yang labih bersifat informasi dan teori-teori baru ranah epistemologi ilmu pengetahuan.

Pada sudut pandang ini, revolusi teknologi hadir sebagai respon perubahan. Tidak lagi memikirkan kualitas atau isi sebuah buku yang diterbitkan. Yang penting adalah, bagaimana pembaca terhibur dengan bacaannya. Kualitas buku tidak terlalu urgent (mendesak. Sebuah tanda awal kemunduran orientasi dalam dunia keilmuan.

Khususnya dalam dunia tulis dan penerbitan. Pada awal mulanya penerbitan memproduksi buku-buku dengan referensi keilmunan dengan orientasi mencerdasakan, mendidik, memahamkan, menjadikan pembaca terpelajar, berlilmu dan berpengetahuan.

Setelah masa itu, kiblat penebitan melayani pembaca dan penulis hanya pada tujuan menghibur dan jarang berbasis kepada keilmuan yang mencerdasakan pembaca. Dampak ini bahkan hingga sekarang terus berlanjut hingga pembaca benar-benar tenggelam dalam bacaan yang renyah namun jauh dari kata mencerdaskan.

Padahal, membaca bukan sekadar untuk mencari hiburan, namun bertujuan untuk mendidik pikiran dan mencerdaskan pengetahuan!  

Wallahua’lam bish shawaab

Postingan terkait

Mondok Dan Memondokkan: Nasihat Berharga Untuk Orang Tua Dan Para Alumni

Ustadz Kholid Muslih

Meretas Nalar Kedaulatan (Catatan Opini untuk Negeri)

Sofian Hadi

Mondok Dan Memondokkan: Nasihat Berharga Untuk Orang Tua dan Para Alumni

Ustadz Kholid Muslih

Bala Lanta: Menjaga Tradisi Gotong-Royong di Pulau Sumbawa

Sofian Hadi

Buku dan Paham Paradoks Kita: Sumber Pengetahuan Yang Sengaja Dilupakan

Sofian Hadi

Membincang Makna Kata Adîl dan Qisth di Dalam Al-Qur’ân

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page