“Yang seharusnya diupayakan orangtua kepada anak adalah menanamkan dan menumbuhkembangkan kemampuan mengenal Tuhan dan mengenal diri sejak dini”
Al-Ustadz. Muhammad Badrun, M.A.
Zaman sekarang ini benar-benar menjadi bukti nyata betapa hari kiamat sudah semakin dekat. Sulit membedakan antara yang benar dan salah, antara yang hâq dengan yang bathîl, antara sesuatu yang sejatinya baik dan yang sebenarnya buruk.
Orang tentu senang dan bangga ketika mendapat predikat maju, atau kreatif, atau modern, dan sebagainya. Sehingga berupaya untuk mengikuti atau mengejar sesuatu yg berlebel kemajuan.
Perkembangan teknologi yang semakin canggih menjadi salah satu tanda sebuah kemajuan. Sehingga mereka yang tidak mampu mengikuti akan terposisi pada kelompok yang disebut ketinggalan zaman. Atau, setidaknya, gaptek (gagap teknologi). Bahkan dengan sebutan yg terkadang membuat kuping panas dan perasaan teriris. Kuno, konservatif, primitif, dan sebagainya.
Alhasil, karena mengejar label ‘kemajuan’, sebutan ‘modern’, ‘gaul’, dan sebagainya banyak anak yang tumbuh dan berkembang melompat. Tidak mengikuti tahapan yang seharusnya. Ironisnya, banyak orgtua yang tidak menyadari sehingga justru mengikuti begitu saja trend itu dan, padahal dengan segala kesulitan dan kesusahan, memenuhi dan menuruti keinginan dan kemauan anak.
Mestinya belum baligh berkendara motor justru malah diajari. Padahal belum membutuhkan alat komunikasi malah sudah dibelikan. Akhirnya, yang terjadi adalah ketidaksiapan mental, yang ujungnya terwujudnya kepribadian ganda, pecah (split), dan tidak mengkristal.
Pada episode ini, seharusnya orangtua fokus mendidik, mengasuh, mengajari anak-anak mereka dengan konsep pendidikan yang kuat tentang aqîdah, syarî’ah dan akhlâq. Bukan sebaliknya, membiarkan anak-anak “dipaksa” untuk mlek teknologi yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam kelalaian syari’at.
Apa yang seharusnya diupayakan adalah menanamkan dan menumbuhkembangkan kemampuan mengenal Tuhan dan mengenal diri sejak dini. Dalam waktu yang sama upaya tersebut musti dibarengi dengan kepasrahan dan ketawakkalan kepada Allah Swt.
Dengan fokus menanamkan kemampuan aqîdah, syari’at mengenal Tuhan akan memberikan dampak positif untuk perkembangan anak dengan tampak mengesampingkan kemajuan teknologi yang serba cepat.
Syekh Yusuf al-Qardhawi dalam buku ar-Rasûl wal îlm mengatakan “Pentingnya penanaman ilmu pada fase ini. Ilmu yang dimaksud disini adalah ilmu agama, ilmu yang menuntun manusia menuju Allah, memahamkan aturan-aturan Allah kepada mereka (anak-anak). Tidak boleh mengabaikan ilmu agama ini kendati mereka hebat dalam teknologi, menembus angkasa dan menjajah planet-planet”.[1]
Semoga kita diberikan kekuatan, keistiqamahan dan kemampuan dalam mendidik dan mengajari anak-anak kita dengan bekal ilmu dan iman kepada Allah Swt.
Wallahu a’lam bish shawâb
Penulis Al-Ustadz. Muhammad Badrun, M.A. Mahasiswa Pasca Doctoral AFI-UNIDA Gontor
[1] Syekh Yusuf al-Qardhawi, Ar-Rasûl wal Ilm, Terj. Konsep Ilmu dalam Perspektif Rasulullah Saw: Tentang kedududkan Ilmu dan Ulama, 1994, (Jakarta: CV.Firdaus), hlm, 70
1 komentar