Pendidikan

Mengurai Makna Kepesentrenan, Pesantren dan Santri

Kepesantrenan merupakan istilah yang merujuk kepada sistem Pendidikan berbasis kepada nilai dan ajaran Islam. Kepesantrenan adalah sistem, kultur, tradisi, nilai-nilai, dan tata kehidupan yang berlaku di dalam sebuah pesantren. Kepesantrena dari kata pesantren. Sementara, kata pesantren asal kata dari ‘santri.’

Istilah ‘santri’ berasal dari bahasa Sanskerta. ‘Santri’ diambil dari kata dalam bahasa Sanskerta, yaitu sastri yang artinya ‘melek huruf’ atau ‘bisa membaca’. Ada pula yang mengaitkan asal usul istilah ‘santri’ dengan kata-kata dalam bahasa Inggris, yaitu sun (matahari) dan three (tiga), menjadi tiga matahari.  

Istilah ‘santri’ bisa pula dimaknai dengan arti ‘jagalah tiga hal’, sebagaimana yang tertulis di buku Sejarah Pergerakan Nasional (2015) karya Fajriudin Muttaqin dan kawan-kawan, yaitu menjaga ‘ketaatan kepada Allah, menjaga ketaatan kepada Rasul-Nya, dan menjaga hubungan dengan para umara’ (pemimpin).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ‘santri’ setidaknya mengandung dua pengertian. Arti pertama adalah orang yang mendalami agama Islam, dan makna kedua adalah orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh.

Santri selama ini digunakan untuk menyebut kaum atau orang-orang yang sedang atau pernah memperdalam ilmu (pengetahuan) ajaran agama Islam di sebuah pesantren. Istilah santri, acap kali digunakan untuk menyebut kaum atau orang-orang yang sedang atau pernah memperdalam ajaran agama Islam di pondok pesantren.

Baik istilah kepesantrenan, pesantren dan santri, apabila ditinjau dari perspektif kajian kontemporer, terminologi ini membuka cakrawala pengetahuan baru tentang makna dari kepesantrenan. Yaitu sistem pendidikan yang mengacu kepada pembelajaran ilmu, adab, akhlaq, dengan mengacu kepada system nilai yang disandarkan kepada system dan nilai Pendidikan Islam.

Nilai dan sistem pendidikan Islam tentunya mengacu kepada al-Qur’an dan Hadits. Kedua sumber ini kemudian dikembangkan oleh seorang yang dipanggil ‘Kiayi’. Kiayi adalah orang yang dalam dan tinggi keilmuan agamanya serta dekat hubungnnya dengan Tuhan.

Kepada kiayi itulah, santri belajar ilmu agama, dan ilmu lainnya. Keterpanggilan kiayi dalam mengajar para santri, menjadikannya orang yang disegani di tengah masyarakat. Masyarakat kemudian memberikan kepercayaan kepada kiayi, untuk mendidik, mengajar dan megasuh anak-anak mereka. Masyakat juga dengan ikhlas menitipkan anak-anak mereka untuk tinggal, hidup di Pesantren dalam satu asrama.  

Dengan membaca beberapa makna yang diurai di atas, dapat dicerna secara mendalam arti dari kepesantrenan. Untuk memudahkan uraian tentang kepesantrenan berikut tabel penjelasanya:

Islam adalah core center dari sistem yang mengikat secara holistik. Al-Qur’an dan hadist sebagai sumber nilai tarbawi dan nilai-nilai lainnya. Kepesantrenan adalah sistem, kultur, disiplin, yang dijalankan. Pesantren adalah nama dari lembaga, institusi, yayasan pendidikannya. Adapun santri, sebagai subjek sekaligus objek dari system dan nilai yang belajar di lembaga tersebut.

Penting diketahui bahwa semua unsur tersebut adalah satu kesatuan yang inheren (terikat satu sama lain). Tidak bisa dipisahkan dan tidak boleh dirubah, entah dari system maupun nilai yang diterapkan.

Nilai yang diterapkan di pesantren menurut Azyumardi Azra, adalah sama dengan sistem nilai yang diterapkan di Surau. Istilah Surau, lebih merujuk kepada langar atau musalla. Surau identik perkembangannya di tanah Minang (Munangkabau) Sematra. Sementara Pesantren, lebih kepada tradisi di tanah Jawa. (Prof. Azyumardi Azra, Surau Pendidikan Islam Tradisional dalam Tarnsisi danModerasi, hal.hlm,146)  

Karenanya, memisahkan atau merubah sistem dan nilai yang ada di suatu pesantren, sama hal-nya dengan merubah dan melepaskan diri dari core center (Islam, Qur’an & hadist) yang menjadi basis, asas dan sumber segalanya system nilai diperolah. Kiayi sebagai central figure di suatu pesantren harus mencermati dan memastikan system dan nilai itu berjalan dengan seimbang.

Di dalam system pendidikan modern, system dan nilai-nilai kepesantrenan menjadi tameng inti agar system nilai tidak tergerus dan tercemari oleh system nilai yang datang dari luar system nilai pendidikan Islam. Contohnya, sistem nilai yang datang dari budaya modern (Barat). Hal ini perlu dicermati dan di antisipasi guna mencegah terjadinya pergeseran visi dan misi di tubuh lembaga pesantren.

Selanjutnya, terminologi pesantren biasanya dipadankan dengan kata pondok. Seperti, ‘pondok pesantren’. Istilah ini digunakan sebagai distingsi, bahwa kata ‘pondok’ merujuk kepada makna umum. Istilah pondok berasal dari Bahasa Arab funduuq (فندوق) yang berarti penginapan. (baca Wikipedia).

Pondok adalah nama suatu tempat, gubuk, (pondokan) yang lazim digunakan untuk singgah sementara, tempat tinggal, tempat istirahat atau tempat belajar. Itulah sekilas makna dan terminologi santri, pesantren dan kepesantrenan

Postingan terkait

Meneropong Kualitas Pendidikan di Sumbawa Barat

Sofian Hadi

Perkembangan Minat Baca di Indonesia

Sofian Hadi

Membaca Ulang Definisi ‘Character’ Bagian 2 (Dua)

Sofian Hadi

Pentingnya Pendidikan dalam Islam: Mencetak Generasi Berwawasan dan Berakhlak Mulia

Sofian Hadi

Kiprah Afiqah A. Yunda Syarian di Olimpiade Matematika Tingkat Provinsi

Batuter

Menimbang Sistem Pendidikan Dînîyah dan Sistem Pendidikan Aqlîyah

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page