Sastra

Sebuah Buku Hadir Dalam Ungkapan Kegirangan

Ingatan yang satu memang biasanya memanggil ingatan yang lain. Kalau ini terjadi, maka penulisan buku tidak akan kunjung selesai”. _Polycarpus Swantoro, hlm. xxvi


Bulan Agustus 2025, Saya menghadiri undangan dari Perpustakaan Provinsi di Mataram. Undangan tersebut dalam rangka mengikuti program kegiatan “Penulisan Berbasis Konten Buadaya Lokal”. Program ini menyasar beberapa pegiat literasi Se-Pulau Lombok dan Sumbawa. Banyak Ilmu baru, khsusnya materi sejarah budaya sasak (Lombok) Bima, Taliwang dan Sumbawa. Program penulisan ini dijadwalkan selama 3 kali pertemuan.

Sebelum kegiatan di mulai dan pemateri masih santai mengobrol, Saya sempatkan membaca beberapa buku yang terpajang di rak perpustakaan. Saya membaca beberapa judul-judul buku, sesekali melewatkannya. Salah satu cover yang membuat Saya penasaran adalah buku dengan judul ; Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu karya P. Swantoro.

Di dalam benak Saya, buku ini akan mengupas sejarah buku seperti karya Fernando Bâez, asal Venezuela yang menyaksikan kekejaman tentara Amerika saat invasi Irak, 2003. Mereka memusnahkan buku, memusnahkan museum dan membakar lembaran-lembaran manuskrip. Atau, isinya seperti karya Johannes Pedersen, tentang sejarah kesusasteraan buku di dunia Arab.

Akan tetapi pada faktanya, buku dengan ketebalan 472 ini, berkisah tentang sejarah awal Sang Penulis, berinteraksi dengan buku. Walau terkesan lebih kepada pembahasan tentang sumber sejarah, tokoh, perjuangan, politik, kisah sastrawan, namun buku ini ditulis dengan padat dan berisi. Isinya lebih runut, bertajuk, walau sesekali ‘saling menabrak’.

Cerita diawali dengan petualangan Kakek Sang Penulis, yang meminta tolong kepada seseorang yang bernama Bunyamin Wibisono. Hobi pak Buyamin adalah sebagai pengoleksi buku-buku tua. Satu hobi yang mungkin jarang ditemukan di masa kini. Boleh jadi, ini adalah hobi langka sekaligus mahal. Pembaca akan diajak melanglang buana, memotret hidup Asia, Eropa, Timur dan Barat.

Plot twist yang tidak ditaksir adalah, si Kakek yang diceritakan dalam buku ini ternyata Penulis buku itu sendiri yakni, Pak Polycarpus Swantoro, atau P. Swantoro. Walaupun agak terkesan tidak pararel setiap tema yang dikuliti, akan tetapi, pembaca akan memahami, bahwa rumus seorang penulis adalah menggiring pembaca ke ruang renung dan ruang pikir.

Dalam kata pengantarnya Pak Jakob Oetama, sekaligus  sebagai CEO Kompas-Gramedia mengapresiasi buku ini dengan ungkapan “Membaca buku yang berjudul; Dari Buku ke Buku” Sambung Menyambung Manjadi Satu, mengasyikkan, mengalir dalam balutan cerita”

Tidak untuk membuat sebuah penyataan paradoks dengan CEO di atas. Sebaliknya, Saya yang membaca buku ini mengajak pikiran saya ‘berkelahi’. Berkelahi dengan kebingungan, sejarah, dan berkelahi dengan ketidaktahuan tentang buku yang Saya baca. Bagi Saya, buku ini  memuat pesan ‘amat’ penting yang sulit ditemukan kesimpulannya.

Bisa dibayangkan, dalam satu buku ini ditemukan kurang lebih 200 judul buku lain yang diceritakan penuh makna. Entah dari sudut pandang tokoh, sejarawan, politikus, negara, Indonesia, Penulis buku ini berhasil menulis historia dengan kesungguhan, perasaan, kesadaran dan ketulusan jiwa. Buku ini bisa dikatakan sebagai mini ensiklopedia klasik-kontemporer yang langka.

Tidak hanya tokoh dan sejarawan Bangsa yang diulas, namun tokoh dan penulis serta sejarawan Asing juga direkam dengan jejak intelektual, serta karangan mereka. Dibalut dengan kekuatan dan ingtan Penulis yang kuat, buku ini memberikan perspektif baru untuk pembaca yang senang berselancar diombak kerumitan.

Sebagai penikmat buku, Saya lebih setuju dengan ulasan pada synopsis yang mengatakan bahwa; isi buku ini adalah ‘lompatan kegirangan’ Sang Penulis. Pembaca memang sesekali akan disesatkan dengan jangkauan pikiran Penulis yang luas. Kesesatan itu akan menemukan jalan keluar, tatkala pembaca mengulang sekali atau dua kali lembar bacaan. Tentunya, ini bukan semacam ‘penyiksaan logika’ atau ‘pengkerdilan intelektual’ pembaca. Akan tetapi, lebih kepada menuntut kepahaman.

Membaca adalah menghidupkan imajinasi bukan membunuh fantasi. Imajinasi yang hidup mampu menemukan kesimpulan-kesimpulan rumit dengan memaksa informasi hadir memberi solusi. Buku ini hadir dengan kekuatan literasi. Kebanyakan orang bertahan dalam proses rumit, dan berhasil keluar sebagai pemenang. Gambaran ini terkiaskan ketika pembaca berhasil menuntaskan lembaran terakhir dari buku ini.

Pada satu titik harapan, buku ini hadir memberi warna baru kepada pembacanya. Dalam kerumitan berpikir, buku ini hadir untuk meringankan pemahaman pembaca tentang arti sesuatu yang belum dipahami. Walau agak tertatih-tatih pembaca mengawalinya, akan terasa lebih berima dan terbiasa, setelah ikut berselancar dan tenggelam dalam bait kerumitan-kerumitan tersebut.

Hampir dua pekan berlalu Saya meminjam buku itu dari Perpustakaan Provinsi NTB. Sampai saat ini masih berjibaku memahami dan mengeja pararel, melengkapi puzzle dan membuka labirin-labirin yang bahkan masih bertengger menjebak ejaan-ejaan yang bias.

Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu. Sejauh ini masih dalam versi terbaiknya. Kepiawaian Sang Penulis menjadikan buku ini mampu berumur panjang.     

Semoga menginspirasi!

Postingan terkait

Bahasa dan Sastra Kerajaan Bima Tahun 1947: Catatan H. Zollinger

Yadi Surya Diputra (Bung Suryo)

Ketika Perpustakaan Kuno Alexandria Menyumbang Inspirasi Bagi Keilmuan Dunia  

Sofian Hadi

Hakekat “Kritik” dalam Sastra Indonesia

Sofian Hadi

Mengenal Teori Grafologi dalam Literasi Menulis

Sofian Hadi

Kehidupan Keagamaan Di Sumbawa Tahun 1847 Dalam Laporan Zollinger

Yadi Surya Diputra (Bung Suryo)

Ulasan Keresahan Penutur Kosa-Kata ‘Asing’ dalam Sebuah Ujaran  

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page