Nasional

Begini Cara Media Mengendalikan Dunia (Bagian Empat, Penutup)

Penggunaan Situs Dakwah Islam

Menurut hasil survey Pew Research Center bahwa jumlah umat Islam dunia   di tahun 2010 mencapai 1.6 milyar. Diperkirakan di tahun 2050 akan mencapai 2.76 milyar. Dengan begitu agama Islam merupakan agama yang perkembangannya paling pesat di dunia.

Namun, jika kita telaah di Indonesia yang merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di Dunia, saat ini jumlah umat Islam mencapai 85%  yang  sebelumnya  95%58. Jumlah  penduduk  masyarakatnya  naik,  tapi peresentasenya menurun.

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Ketua ICMI bahwa disebabkan oleh produktivitas dakwah dari umat beragama lain lebih efektif dibandingkan umat Islam. Terutama dalam pemanfaatan media, umat Islam masih minim jika dibandingkan dengan umat-umat lain.

Hal ini seperti fakta yang ada, media elektronik (televisi), media cetak (koran, majalah dll), media  online  (internet),  semuanya  didominasi  oleh  aliran/umat  lain  selain Islam (dalam hal ini media sekuler).

Namun, lagi-lagi media online menurut hemat penulis merupakan media siber yang sangat berpengaruh dan merupakan tantangan bagi umat Islam untuk saat ini dan kedepannya.

Survei di tahun 2013 tentang jumlah situs yang berkedok Islam (menghujat dan menghina Islam) sebanyak 124 situs. Sedangkan situs yang menyimpang dari Islam sebanyak 181 situs, yang terdiri dari 22 situs Ahmadiyah, 58 situs syi’ah dam 101 situs Liberal.  

Sedangkan jumlah situs Islam (mendakwahkan Islam) sebanyak 28 situs yang sebelumnya sebanyak 15 situs. Dari sumber dataini, dapat simpulkan bahwa betapa tidak berimbangnya antara situs yang konfrontasi dengan Islam dengan situs Islam yang benar-benar menyeru kepada Islam.

Realitas Media Membentuk Budaya

Pada pembahasan sebelumnya sudah dibahas budaya-budaya yang dibentuk oleh media. Sehingga pada pembahasan ini, Penulis ingin mengemukakan bagaimana media menciptakan atau membentuk the picture in our head melalui analisis film, video, dan advertisement.

Sebagian besar dunia perfilman internasional diprakarsai oleh perusahaan- perusahaan Yahudi seperti Fox Company, Golden Company, Metro Company dan lain-lain. Itulah mengapa ribuan film bahkan jutaan digencarkan untuk melakukan demonologi  Islam  disamping melakukan  pembaratan dunia  Islam,  dan demoralisasi melalui kampanye free sex dan pornografi. 

Sebagai contoh, kita tentu masih ingat film Holywood, True Lies, yang sangat kontroversial dan menghebohkan umat Islam Indonesia. Film yang dibintangi actor kondang Arnold dan disutradarai James Comeron tersebut jelas memuat demonologi Islam.

Dunia advertisement atau periklanan pun juga mampu menanamkan sebuah budaya. Sebagai contoh, iklan shampoo, mengambarkan ketombe atau rambut rontok  sebagai  sesuatu  yang sangat  menakutkan.  Disamping  itu  pula sebagian besar iklan-iklan memuat unsur-unsur pengundang syahwat (beautiful women) seakan-akan tanpa diaktori seorang wanita cantik iklan tersebut tidak akan perfect.

Pada sisi berbeda, maraknya dunia music mendasari para remaja untuk mengonsumsi music baik secara lansung di TKP (konser show), melalui MP3, maupun video klib. Dimana video-vidio tersebut memuat unsur-unsur konten hedonis dan materialistik serta pergaulan bebas. Inilah yang memberikan efek bagi sebagian kalangan terutama remaja yang kehilangan moralitas serta jati diri agama dan bangsanya.

Pentingnya Dakwah Melalui Media Sosial

Dakwah merupakan menyampaikan dan mengajarkan risalah Islam kepada seluruh umat manusia agar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tantangan dakwah Islam kian hari semakin keras. Sebab datangnya dari berbagai macam aspek, baik dari internal maupun eksternal.

Tantangan yang bersifat eksternal, diantaranya ialah tantangan dari musuh Islam yang menghalangi dakwah Islam dengan berbagai cara, mulai dari penyebaran fitnah terhadap umat Islam sampai dengan pembentukan budaya yang bertantangan dengan nilai-nilai agama maupun istiadat.

Adapun tantangan internal, lebih disebabkan karena kurangnya kesadaran kaum Muslimin dalam mengunakan media dan sarana-sarana teknologi modern yang  kompetibel  untuk  mendakwahkan  akidah  yang benar (shahih.

Di sinilah, pentingnya dakwah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat  Indonesia  dan segenap umat Islam  akan  bahaya  yang  melanda  dizaman sekarang. Serta, menyuruh berbuat makruf dan mencegah kemungkaran. Ini merupakan tugas besar para mujahid media. Yakni menjaga kehidupan masyarakat agar selalu baik dan terhindar dari adat kebiasaan yang mungkar.

Al-Qurān  telah  memberikan  metodologi  dakwah  dengan  jelas  dengan beberapa ayat-ayat yang secara global tersirat dalam firman SWT: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (Qs. An-Nahl: 125).

Ayat diatas menjelaskan dakwah dengan bijaksana (hikmah) yang memuaskan rasio, wejangan (mauizhah) yang menggerakan hati. 

Dakwah ini harus dilakukan secara argumentatif dan meyakinkan (nyata) sebagaimana firman Allah kepada Rasul-Nya: “Katakanlah, Inilah jalan (agama)-Ku, aku dan orang- orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata…” (Qs. Yusuf: 108).

Semoga kaum Muslimin tetap melakukan dakwah melalui media online atau media sosial, kapan pun dan di mana pun mereka berada. Amiin ya rabbal alamîîn.

Wallahua’lam bish shawââb.

Postingan terkait

Pesan Penting Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi kepada Wisudawan Universitas Cordova 2024

Sofian Hadi

Haruskah Pendidikan dan Pengajaran Dengan Hukuman?

Sofian Hadi

Debut Gemilang: Rizki Juniansyah Raih Emas di Olimpiade 2024

Sofian Hadi

Darul Arqam Dasar (DAD) Gerbang Kaderisasi IMM yang Harus Dijaga

Fiqri Rabuna

Bersiap Menyambut Ramadhan: Fisik Kuat, Hati Tenang, Ibadah Maksimal

Sofian Hadi

Kintsugi: Seni Menata Hidup ala Jepang Kuno

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page