“Pendidikan dan pengajaran orang tua yang maksimal kepada anak, adalah cara terbaik untuk mengurangi kekerasan dan hukuman di dunia pendidikan”_ Fadhil S. Hadi
Suatu pagi di sebuah komplek perumahan di Amerika Serikat, nampak kedua orang tua disalami tangannya oleh sang anak berpamitan untuk pergi ke sekolah. Sang Ibu dan Bapak kemudian mencium kening anaknya mendo’akan dan melepas sang anak pergi ke sekolah.
Itulah ritual setiap pagi keluarga tersebut, sebelum melepas anaknya pergi ke sekolah. Sang Ibu dan Bapak selalu melepas kepergian sang anak dengan do’a dan senyuman. Melambaikan tangan sambil mengucapkan kata “take care my son and God bless you.” Sambil berlari kecil sang anak menjawab “Ok Mom, love you Dad!”
Usut punya usut, ternyata mereka adalah keluarga Muslim yang hidup di sebuah komplek perumahan di Amerika. Aktivitas tersebut setiap hari mereka lakukan. Sebuah fenomena yang ‘aneh’ bagi masyarakat dan individu warga Amerika yang notabene-nya sekular.
Tanpa mereka sadari, ritual salaman cium tangan, dan mendo’akan sang anak saat melepasnya ke sekolah mendapat perhatian dari tetangga sebelah, yaitu keluarga Amerika. Tetangga sebelah yang aslinya warga Amerika tidak bisa menyembunyikan rasa haru sekaligus ‘cemburu’ melihat ritual pagi yang dilakukan oleh keluarga Muslim.
Ritual pagi hari keluarga Muslim selalu mereka pantau dari jendela rumah. Keluarga Amerika itu juga telah memiliki anak yang belajar di bangku senior high school (Sekolah Menengah Atas). Dan sekarang, mereka mempunyai dua anak yang masih berumur 3 tahun.
Di hari libur, keluraga Amerika kemudian mendatangai kelurga Muslim dan bertanya tentang hal ‘asing’ yang selalu mereka lakkukan di pagi hari. Dengan tanpa basa-basi sang Ibu dari keluarga Amerika itu berkata, “Teach me the way, how to teach your children. Can I send may children latter to your school”? Ajari aku bagaimana cara mendidik anak seperti yang kamu lakukan. bisakah saya menyekolahkan anak saya nanti di sekolah tempat anakmu belajar? Demikian kata Ibu dari Amerika tersebut.
Pembaca yang budiman
Kisah di atas, adalah ralitas yang terjadi yang melanda keluarga di Amerika. Walaupun ritual keluarga Muslim saat melepas anak mereka nampak sederhana. Kendati demikian, realitas pada kondisi berbeda adalah sesuatu yang berdampak sangat besar. Tidak hanya untuk keluarga mereka secara internal, namun membagi dampak bagi keluarga lain.
Peran sederhana orang tua, adalah wujud dan harapan besar tentang pendidikan yang semestinya diberikan kepada sang anak. Harapan orang tua terhadap anak ditopang kuat oleh guru yang memberikan pengajaran dan pendidikan di sekolah. Anak harus dibuat patuh kepada orang tua, sekaligus kepada gurunya.
Patuh kepada orang tua dan guru adalah ilmu dan pendidikan primordial (dasar) yang harus ditanamkan kepada anak. Disiplin patuh ini adalah disiplin pertama yang mesti diajarkan. Jika disiplin patuh gagal diajarkan kepada anak oleh orang tua, maka imbasnya akan dirasakan oleh Guru di sekolah.
Kasus yang marak terjadi belakangan ini, seorang guru menampar siswa karena merokok, karena berkelahi, karena tidak mengerjakan PR sudah sering kita saksikan. Persoalan ini telah berlarut-larut dan selalu guru yang menjadi korban. Guru, jarang mendapat pembelaan apabila ada kasus pemukulan.Guru cenderung disalahkan, dituntut bahkan dilaporkan ke pihak berwajib.
Dengan dalih penganiayaan siswa atau murid dan sebagainya. Padahal, apabila ditelaah secara dalam, anak-anak yang melanggar cenderung tidak ada disiplin “patuh” yang seharusnya dijarkan oleh orang tua. Jika hilangnya rasa patuh akan timbul rasa berontak, melawan, tidak disiplin.
Tentang hukuman, di dalam pendidikan Islam itu memungkinkan dilakukan namun sebelumnya telah dilatih terlebih dahulu untuk patuh, taat dan disiplin. Hukuman itu, bukan dengan tanpa alasan namun melalui proses pembiasaan dan latihan disipln yang baik.
مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat). Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan)”. (HR. Abu Dawud, No. 495)
Adanya hukuman, karena hilangnya patuh, hilangnya disiplin. Untuk menghadirkan patuh dan disiplin caranya dengan memberikan hukuman. Hukuman dalam hal ini, jangan diartikan dengan sempit, pakai kayu, bambu atau benda keras lainnya, bukan itu maksudnya. Tapi hukuman yang mendatangkan kepatuhan dan kedisiplinan yang efeknya menyadarkan hati dan jiwa siswa atau murid.
Didiklah anakmu kepatuhan, ketaatan, kedisiplinan agar merekatumbuh dengan kesadaran. Jangan sepelekan mengajar kebaikan walaupun itu sangat sederhana, karena hal sederhana nilainya mahal.
Menempelang siswa itu sepenuhnya bukan karena guru dendam, tapi karena orangtua yang tidak maksiamal mengajar dan mendidik anaknya untuk patuh, taat dan disiplin. Pendidikan dan pengajaran orang tua yang maksimal kepada anak adalah cara terbaik untuk mengurangi kekerasan dan hukuman di dunia pendidikan.
Walluhu’alâm bish shawââb