Jelas dan tegas! Bukti dan argumentasi kebenaran dalam Islam. Tidak nisbi maupun relative. Argumnetasi sederhananya, apabila dalil naqli dipakai untuk membuktikan sebuah kebenaran, maka bukti dan argumentasi ini sudah tidak terbantahkan!__(Fadhil S. Hadi)
Perbuatan manusia yang bertentangan dengan pengetahuannya dan bertentangan dengan perintah yang diberikan kepadanya atau perintah yang diberikan kepada orang lain, tidak akan timbul kecuali dari orang yang tidak lurus pikirannya serta tidak matang akalnya. Bahkan manusia ini digolongkan kepada orang yang memiliki gangguan psikis.[1]
Gangguan psikis ternyata tidak hanya datang dari keterbelakangan fisik, namun bisa datang dari kekacauan pikiran dan kerancuan menggunakan nalar ilmu pengetahuan. Hal ini, akan mempengaruhi kondisi jiwa dan mental soseorang sehinga menimbulkan kekacauan dalam menimbang sebuah kebenaran.
Kebenaran yang tidak disandarkan kepada akal-pikiran dan pengetahuan dapat mendatangkan beberapa keputusan yang tumpang-tindih. Apalagi dalam hal keyakinan (agama), seseorang cenderung berpotensi membenarkan kebenaran dengan pengetahuan ilmunya yang dangkal. Bagaimana mungkin, orang yang pengetahuan dan ilmu dangkalnya akan selamat?
Tentunya, pertanyaan ini penting untuk di jawab. Sebab, saat ini rasionalitas selalu dibenturkan dengan agama sebagai sandaran keyakinan. Rasionalitas akal, dipakai untuk mengukur kebenaran dan keyakinan tanpa adanya dialog yang jelas antara ilmu pengetahuan, akal dan wahyu Tuhan.
Baru-baru ini, bermunculan ungkapan dari seorang “aktivis” yang memberikan ceramah dihadapan tokoh dan ulama mengenai peran besar seorang Thomas Alva Edison penemu lampu pijar (listrik). Figur itu menyatakan bahwa ‘akan sangat tidak adil kalau Thomas Alva Edison tidak masuk syurga. Tegasnya.
“Lampu yang menerangi orang-orang mengaji, menerangi Masjidil Haram, menerangi daurah (pengajian), menerangi orang-orang butuh dan menerangi dunia ini. Adilkah kita kalau Alva Edison jika dia masuk neraka? Walaupun hal itu adalah hak prerogatif Allah.” Terangnya meyakinkan.
Narasi pemikiran dan pemahaman seperti ini sesat dan menyesatkan. Sangat disayangkan ungkapan itu keluar dari pikiran dan nalar keilmuan seorang Muslim. Padahal dalam internal Muslim sendiri, belum ada jaminan seseorang masuk syurga. Walaupun jaminan itu pasti ada, dan benar adanya. Tidak ada keragauan. Adapun seorang yang menganut keyakinan diluar Islam, dan dia ingin masuk syurga, (kok enak sekali). Baca baik-baik kriterianya di QS. Ali ‘Imran ayat 19. dan QS. Ali ‘Imran: 85.
Kematangan akal, kecerdasan intelektual, ternyata belum bisa menjamin seseorang bisa menemukan kebenaran yang hakiki. Kebenaran hakiki di sini adalah kebenaran yang mampu membawa pikiran, akal, ilmu pengetahuan dalam menemukan Tuhan mengafirmasi syari’at dan hukum yang ditentukan oleh Tuhan.
Karenanya, akal pikiran dan ilmu pengetahuan mempunyai standar yang jelas, bukan hanya klaim kayakinan sepihak. Harus-lah di situ adanya pembuktian yang disebut dengan dalil (bukti) atau hujjah (argumentsi). Dalil dan hujjah merupakan standard penting dalam pembuktian kebenaran. Tanpa kedua-nya akan menjadi kebenaran yang nisbi (relative) yang akan melahirkan kerancuan dalam membuat kesimpulan.
Islam, sebagai sebuah kebenaran meletakkan dengan jelas dalil dan hujjah tersebut. Adapun dalil di dalam Islam terbagi menjadi dua bagian. Pertama, dalil naqli. Kedua, dalil aqli. Dalil naqli adalah dalil yang disandarkan kepada teks (al-Qur’an) yang bersumber dari wahyu Tuhan dan teks Hadits yang disandarkan kepada perkataandan perbuatan, qaulan wa fi’lan Nabi.
Dalam konteks ini, Islam dengan kesempurnaanya mampu menghadirkan bukti-bukti kebenaran. Bukti kebenaran ini pastinya dibuktikan dengan hujjah (argumntasi) kuat. Berikut dalil Qur’an berkaitan dengan kebenaran;
Pertama, dalil al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 147. “Al-haqqu mir rabbika falaa takunna minal-mumtarin” (Kebenaran itu dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. Kedua, surat al-Kahfi ayat 29. “Wa qull-haqqu mir rabbikum, fa man syaa’a falyu’mim waman syaa’a falyakfur.” Dan katakanlah (Muhammad) kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka barang siapa yang yang ingin (beriman) hendaklah dia beriman dan barang siapa ingin (kafir) biarlah dia kafir.”
Jelas dan tegas baik bukti dan argumentasi kebenaran dalam Islam. Tidak nisbi maupun relative. Argumnetasi sederhana, apabila dalil ini dipakai untuk membuktikan sebuah kebenaran, maka bukti dan argumentasi ini sudah tidak terbantahkan. Akan tetapi, bukti dan argumentasi ini kembali diperkuat oleh hadits atau perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad Saw.
Kedua bukti dan argumnetasi ini mungkin dipandang sebagai sebuah kebenaran yang kaku, sebab bersumber dari teks bukan dari rasionalitas, intelek atau akal manusia. Argumentasi ini dipandang perlu dijelaskan, bagaimana rasionalitas berperan menghadirkan kebenaran.? Demikian argumentasi para pengagum rasionalitas. Mereka (pengagum akal) tidak puas dengan bukti teks yang cenderung sepihak dan tekstual.
“Bukti kebenaran rasional itu penting, bukan hanya kebenaran tekstual” demikian alasan yang dipakai oleh mereka yang mulai skeptis dengan keberanan. Ujung-ujungnya akan menuntut kebenaran secara empiris. Tidak salah apabila kebenaran harus dibuktikan secara empiris, namun syarat utamnya harus mengafirmasi kebenaran secara tekstual, bukan menafikannya.
Menafikan kebenaran secara tekstual sama halnya dengan mendatangkan masalah baru. Akan meimbulkan masalah-masalah turuannnya. Tantunya akan berdampak pada pikiran, dan pengetahuan yang kacau. Akal-pikiran menimbang kebenaran, selanjutnya melahirkan kesimpulan yang membingungkan. Hal ini kemudian membuka celah lahirnya perdebatan tentang kebenaran.
Puncaknya, kebenaran me-ngafirmasi keyakinan pikiran berdasarkan pada dalil akal yang dipertentangkan. Tidak ada pertentangan akal pikiran apabila kebenaran dalil naqli dapat diterima oleh dalil aqli. Mungkin konsep ini yang dilupakan oleh sang “aktivis” tadi.
Thomas Alva Edisan secara dalil naqli tidak bisa dibela untuk masuk syurga. Walaupun, dengan manfaat kebaikan dilakukannya. Sebab, kebenaran dalil naqli tidak mendapat tempat dalam keyakinan dan akal pikirannya. Pembelaan terhadap keyakinannya juga tidak perlu dibela, sebab itu telah menjadi pilihannya, yaitu dia telah memilih kafir dari pada beriman.
“Fa man syaa’a falyu’mim waman syaa’a falyakfur.” Dia memilih beriman atau kafir adalah keputusan akal pikirannya. Tuhan telah menyertai dia akal pikiran untuk sampai kepada kebenaran. Akal pikrian pilihannya sudah matang untuk memilih dan memutuskan sebuah kebenaran. Walaupun, kebenaran yang dipilih oleh akal pikirannya tidak bisa membantu dirinya untuk masuk syurga.
Kalau dengan bahasa ‘sporadis’ dipaksakan kepada Adison. Syahadat (bersaksi) akan kebenaran dalil naqli (dalil yang berdasarkan kepada wahyu Tuhan), dalam konteks ini mungkin ada harapan atau jaminan masuk syurga, walaupun harus di bersihkan dulu di neraka. Sayangnya, ini tidak dilakukan.
Jadi, kalau ada orang Islam yang ingin Thomas Alva Edison masuk syurga, hanya karena manfaat yang dia berikan, sangat naif, sebab orang Islam ini ‘menyanggah’ dalil naqli dari Tuhan, dengan dalil aqli yang matang namun keliru dan menyesatkan.
Maka, pesan keras kepada ‘aktivis’ tersebut, syurga itu punya kunci. Kuncinya adalah, kalimat Tauhid “La ilaha illallah” (syahadat). Di dalam Islam, ini sayarat mutlak, tidak bisa dibantah oleh siapa pun! yang membantah syarat ini, berarti dia telah membantah dalil naqli sebagai sumber utama sebuah kebenaran.
Boleh jadi, aktivis ini terjangki penyakit yang disinyalir oleh Syekh Yusuf Qardawi dalam bukunya ; dia mengalami gangguan psikis sekaligus mengalami gangguan pada akal-pikirannya.
Wallahua’lam bish shawaab.
[1]Lihat, Syekh Yusuf Qardawi, Al-Qur’an Berbicara Tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Gema Insani Press,1998), hlm. 20