Ilmu

Gaya Bahasa Dalam Al-Qur’an Tidak Akan Pernah Salah

Tudahan paling kejam yang dibuat orientalis Barat, maupun dari beberapa penganut paham lain, kepada umat Islam adalah tentang otentisitas kitab suci kaum Muslim yaitu al-Qur’an. Beberapa orientalis selalu menuduh Nabi Muhammad sebagai pengarang al-Qur’an. Bagi mereka, al-Qur’an bukanlah wahyu atau Firman Tuhan.

Tokoh-tokoh orientalis yang menyatakan bahwa al-Qur’an merupakan karangan Muhammad antara lain; A Sprenger, William Muir, Theodor Noldeke, Ignaz Goldziher, W. Wellhausen, Leone Caetani, David S. Margoliouth, Richard Bell, dan W. Montgomery Watt.[1] Mereka adalah orang-orang yang menyimpan ‘sentimen negatif’ dengan Islam khususnya kepada Nabi Muhammad Saw.

Terlepas dari semuanya, al-Qur’an dari masa ke masa, tidak pernah ‘tercoreng’ sedikitpun keaslian dan kemurniannya. Sebaliknya, Allah menunjukkan bukti jelas dan gamblang bahwa al-Qur’an benar-benar kalam-Nya, bukan karangan Muhammad. Sampai kapan pun dalil ini tidak akan berubah. Bahkan hingga akhir zaman.

Salah satu I’jaz (mu’jizat) al-Qur’an adalah gaya Bahasa, pilihan kata (diksi) yang termuat di dalamnya. Sebagai contoh, gaya bahasa al-Qur’an dalam menggunakan kata ‘tongkat’ untuk kepemilikan tongkat Nabi Sulaiman As dan Tongkat Nabi Musa As. Kedua gaya bahasa dalam menerangkan dua kata ini sangat berbeda. Berikut pembuktiannya.

Dalam Surat Saba’ ayat 14 Allah menceritakan rapuh atau hancurnya tubuh Nabi Sulaiman as.

فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ ٱلْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَىٰ مَوْتِهِۦٓ إِلَّا دَابَّةُ ٱلْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنسَأَتَهُۥ

 “Maka ketika Kami telah menetapkan kematian atasnya (Sulaiman), tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya ‘Minsa’atahu” (QS. Saba’ Ayat-14).

Dalam Bahasa Arab, kata yang paling umum yang diapakai untuk menunjukkan arti tongkat adalah عَصًا (‘Asha). Bahkan al-Qur’an menggunakan kata ‘asha’ secara berulang kali untuk menyebut tongkat Nabi Musa as. Seperti dalam surat Thaha ayat 18. قَالَ هِيَ عَصَايَۚ  “Dia (Musa) berkata; ini tongkatku ‘Asha.’

Hal menarik adalah, mengapa dalam menerangan ‘tongkat’ Nabi Sulaiman as, al-Qur’an menggunakan kosa-kata yang berbeda atau sangat jarang digunakan dalam kaidah Bahasa Arab? yaitu Minsa’ah. Kenapa Allah tidak berfirman dalam Surat Saba’ ayat 14, menggunakan kata ‘asha’ Ta’kulu ‘Asha (memakan tongkatnya)? Namun sebaliknya, memilih kata Minsa’ah?

Dari perbedaan gaya bahsa atau diksi ini, kita dapat melihat keindahan dan kesempurnaan Bahasa al-Qur’an. Akar kata, (Na-sa-‘a) ن- س-ا  dalam Bahasa Arab bermakna, menunda, mengulur waktu atau menagguhkan. Dalam istilah fiqih muamalah kita mengenal istilah Riba’ Nasi’ah,yaitu Riba yang terjadikarena penundaan/penguluran waktu pembayaran. Karenanya, secara Bahasa, Minsa’ah tidak sekadar bermakna ‘tongkat kayu’ melainkan sebuah alat atau instrument penunda waktu.

Mari kita selidiki lebih dalam, dengan cara menggabungkan makna bahasa-nya dengan kisah di surat Saba’ ayat 14. Mengapa tongkat Nabi Sulaiman as menggunakan kata Minsa’ah? Sebab terjadi sebuah penundaan atau penangguhan pada waktu. Apabila dilanjutkan pada ayat terakhir Surat Saba’ ayat 14, disitu diterangkan, bagaimana sepotong kayu (tongkat) berfungsi untuk menunda para jin mengetahui kematian Nabi Sulaiman as.

Sedangkan dalam menerangkan tentang tongkat Nabi Musa as, Allah menangguhkan kata ‘Asha’ yang berasal dari akar kata ‘Ain- Shad’ ع – ص yang bermakna mengumpulkan atau memukul. Tongkat Nabi Musa as adalah tongkat aktif atau tongkat aksi; berfungsi untuk memukul batu, berubah menjadi ular, membelah laut, mengembala kambing, merontokkan daun dan keajaiban lainnya.

Adapun, tongkat Nabi Sulaiman as, adalah tongkat pasif, diam dan mati. Tongkat Nabi Sulaiman as, hanya berfungsi untuk menunda atau membekukan waktu. Karenanya, al-Qur’an menggunakan kosa kata Minsa’ah untuk menerangkan status tongkat Nabi Sulaiman as, ketimbang menggunakan diksi ‘Asa yang merangkan fungsi atau staus tongkat yang diapakai Nabi Musa as.

Melihat perbedaan penggunaan kosa-kata yang diterangkan dalam al-Qur’an, semakin menguatkan posisi al-Qur’an sebagai Mu’jizat Nabi Muhammad Saw. Bukan sebaiknya melemahkan, namun semakin menguatkan otentisitas dan sakralitas al-Qur’an sebagai perkataan Allah (kalamullah), bukan perkataan atau karangan Nabi Muhammad Saw seperti tuduhan para orientalis.  

Al-Qur’an tidak penah salah atau kebetulan dalam memilih sinonim, diksi, kosa-kata maupun gaya bahasa. Maka tidak ada keraguan akan kebenaran al-Qur’an yang dibawa oleh Rasulullah saw. Dan harus diakui bahwa al-Qur’an melahirkan istilah-istilah yang tidak pernah tumpang-tindih, tidak rancu dan tidak debatable (diperdebatkan).

I’jaz (mu’jizat) atau keajaiban al-Qur’an adalah benar. Tidak ada sedikit pun keraguan yang terdapat di dalam-nya. Tidak dapat dipungkiri, bahwa hujatan dan tuduhan terhadapal-Qur’an tetap akan ada. Sampai kapan pun pasti akan terus disebarkan. Tidak akan lekang tuduhan terhadap al-Qur’an, sampai suatu hari nanti al-Qur’an akan membuktikan kesalahan dan kesombongan mereka.

Dengan demikian, kebenaran al-Qur’an tidak terbantahkan. Sekalipun dikritik, dihujat atau direndahkan oleh musush-musuh Islam. Semakin dikritisi, semakin dihujat, semakin direndahkan semakin teranglah cahaya al-Qur’an dan semakin redup, semakin hina, para pengkritisi,penghujat dan siapa pun yang merendahkan al-Qur’an.   

Wallahu’alam bish shawaab


[1]Baca, Muhammad Mohar Ali, The Qur’an and Orientalist. (Oxford: Jam’iyat ‘Ihya’ Minhaaj Al-Sunnah, 2004), hlm. 2

Postingan terkait

Dari Wadd ke Manat: Riwayat Berhala yang Diabadikan Al-Qur’an dan Pelajaran Untuk Umat

M. Syarif Hidayatullah

Lakukanlah Hal Ini Agar Doamu Allah Kabulkan!

Lalu Wawan Febriyanto

Puasa Ramadhan: Jembatan Orang Beriman Menuju Takwa Paripurna.

M. Syarif Hidayatullah

Do’a Agung Rasulullah: Jangan Biarkan Dunia Menjadi Kesedihan Terbesar Kita

M. Syarif Hidayatullah

Jembatan Hikmah: Melintasi Zaman dengan Tafsir Ayat Keringanan Puasa

M. Syarif Hidayatullah

Gemuruh Zikir di Lembah Mina: Menghidupkan Makna Surat al-Baqarah 200-203

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page